Selasa, 26 Juni 2012

Hasil Wara-wiri


Berangkat dari rencana kegiatan pendampingan LMDH Desa Kalibatur dan Banyuurip Kecamatan Kalidawir, kami melakukan aktion lapangan yang merupakan pra-kegiatan pendampingan. Kegiatan ini berupa study lapang yang bertujuan untuk mengetahui seluk beluk ataupun gambaran umum daripada tempat yang menjadi obyek program pendampingan yang akan kami lakukan nantinya.



Adapun beberapa hasil capaian daripada studi yang kami lakukan ini salah satunya adalah tentang kondisi geografis Desa Kalibatur dan Banyuurip. Kedua Desa ini terletak di kawasan dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 300 m di atas permukaan laut, luas sekitar 22 ha dengan 60% kawasan dari masing-masing Desa adalah barada di kawasan hutan negara. Dan suhu rata-ratanya adalah 27 ̊̊C. Kedua desa ini termasuk berada pada kawasan pesisir selatan di Kabupaten Tulungagung, dan Jarak kedua Desa dari pantai adalah sekitar 6 km. Kondisi tanahnya berupa lapisan tanah tipis diatas bebatuan dan  merupakan jenis tanah liat. Ketika musim hujan tanah ini akan bersifat basah dan lengket, tetapi ketika musim kemarau tiba tanah ini akan bersifat kering, keras dan mudah membentuk retakan tanah, sehingga banyak tanaman pada musim ini mengalami kematian karena akar tanaman tersebut menjadi  banyak yang terputus.
Selanjutnya adalah mengenai perekonomian di daerah tersebut. Pada era sekarang ini perekonomian masyarakat pegunungan di Tulungagung selatan termasuk Desa Kalibatur dan Banyuurip bisa dikatakan berbeda jauh dengan era orde baru dan sebelumnya. Rata-rata mereka berada pada masyarakat menengah ke atas. Kita sudah jarang melihat rumah yang berdindingkan bambu dan kayu, sebagian besar sudah membangun rumah dengan tembok bata dengan desainnya menyerupai bangunan-bangunan di negara Eropa, tidak sedikit orang yang memiliki mobil pribadi ataupun truk sebagai sarana transportasi dalam mereka beraktifitas, dan minimal setiap rumah pasti mempunyai satu unit sepeda motor, rata-rata mereka memiliki dua unit sepeda motor. Secara sekilas dari sini nampak bahwa sebagai masyarakat yang berada di wilayah hutan negara, mereka berhasil menikmati kesejahteraan dari hasil hutan dan program PHBM menjadi sangat sukses dalam memberikan impact yang positif terhadap masyarakat sekitar. Tetapi apa kenyatannya, mereka yang sukses hidup di daerah tersebut adalah mereka yang mencari matapencaharian di luar daerah mereka, entah itu lingkup dalam negeri ataupun luar negeri (Tenaga Kerja Indonesia). Jika mereka hanya mengandalkan hasil dari bekerja di hutan saja mereka tidak akan bisa seperti itu. Hasil dari hutan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan bahkan bisa kurang.
Bersyukur, pada saat ini masih ada lahan di area hutan yang masih bisa ditanami tanaman pangan. Ini bisa dilakukan karena kayu tegakan di tempat tersebut belum begitu tinggi, sehingga masih ada jalan sinar matahari untuk mencapai tanaman di bawah tegakan untuk mempersubur tanaman. Kita tidak tahu ini akan berjalan sampai kapan. Di tempat-tempat lainnya sudah banyak pesanggem yang tidak bisa memanfaatkan lahan di bawah tegakan karena tanaman yang ditanam sebagai tegakan saat ini sudah menutup rapat akses sinar matahari untuk mencapai tanah, sehingga tidak mungkin ada tanaman di bawah yang bisa tumbuh dengan baik. Ini terjadi karena jarak tanam yang diterapkan oleh Perum Perhutani  masih cukup sempit, yaitu 4 x 1 m. Sehingga ketika tanaman tegakan, dalam hal ini jati, berumur sekitar lima tahun maka akan sangat rimbun dan menutupi tanaman di bawahnya.
Permasalahan yang dihadapi adalah ketika hutan lestari maka masyarakat tidak bisa mendapatkan kesejahteraan dari hutan, tetapi sebaliknya jika masyarakat memaksakan dirinya untuk memanfaatkan kawasan hutan maka hutan tersebut tidak akan lestari.
Bidang yang selanjutnya kami pelajari adalah faktor sumberdaya manusianya. Berdasarkan data yang kami himpun menunjukkan bahwa 90% dari anggota LMDH adalah berusia 50 th ke atas, adapun yang lainnya adalah bapak-bapak yang berusia 40 – 48 tahun. Latar belakang pendidikan yang mereka sandang mayoritas adalah lulusan Sekolah Dasar. Adapun yang pernah menjalani pendidikan setingkat SMP dan SMA adalah sekitar 10% saja. Minoritas ini adalah mereka yang saat ini banyak difungsikan untuk menangani administrasi lembaga. Selanjutnya golongan tua berperan sebagai garda depan yang memegang kekuasaan tinggi dalam LMDH. Faktor tersebut berdampak pada dominasi kekuasaan dalam sebuah organisasi, sehingga organisasi tersebut seakan-akan hanya miliknya segelintir orang yang selama ini sering berkecimpung di organisasi. Mayoritas anggota yang lain masih menganggap bahwa organisasi ini hanyalah jalan untuk mendapatkan lahan garapan di wilayah hutan negara beserta fasilitas yang didapat darinya, dan tidak lebih dari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar